Keluh Kesah Literasi Sains Indonesia

Bukan rahasia lagi bahwa literasi sains Indonesia tidak begitu baik. Literasi sains disini didefinisikan sebagai pemahaman seseorang terhadap pengetahuan sains, fenomena, dan cara kerjanya. Pemahaman disini bukan hanya sekedar telah mengetahui, namun juga berpengaruh terhadap tindakan, dan pola pikir. Menyedihkannya, Indonesia meraih peringkat 60 dari 61 negara dalam tingkat literasi. Atau carilah survey lainnya tentang literasi, daya nalar, kemampuan sains masyarakat Indonesia, yang didapatkan akhirnya betapa masih rendahnya hal tersebut di Indonesia. Padahal saja jika dilihat dari jangka pendek, kemampuan literasi seseorang dapat mengasah penalaran, kreativitas, dan mengembangkan perspektif. Dalam jangka panjang misalnya peningkatan dalam hak kekayaan intelektual dan pengembangan bidang keahlian yang akhirnya berdampak pada kekuatan bangsa dan negara.
Tidak lama ini, penulis membaca buku fiksi berjudul ‘Perpustakaan Kelamin’. Ada kalimat yang diucapkan oleh karakter ibu sang tokoh utama, yang kurang lebih begini, “…buku adalah peradaban tertinggi umat manusia. Peradaban kita adalah peradaban buku. Demi peradaban itu, kamu jangan pernah meminta. Jangan Pernah! Kalau perlu, lakukanlah pengorbanan demi mendapat sebuah buku.”. Kata yang benar-benar menggugah. Memang tidak salah lagi, bahwa peradaban berkembang pesat dimulai dari aktivitas literasi. Peradaban agung ini dimulai dari bangsa Cina, yang dikembangkan lagi oleh mesin cetak dari Eropa. Pertanyaan muncul dari benak penulis, apakah sekarang ini memang peradaban buku? Sosial media meraja lela, akibatnya terjadi perilaku membaca instan. Seolah-olah artikel pendek di internet, berita bias, status viral cukup menjadikan sang netizen ‘berpengetahuan’, dan bahkan video visual 4–5 menit dirasa cukup menggantikan teks-teks pengetahuan komprehensif. Maka jangan salahkan kelompok subversif, konspirasi memenuhi jagat raya diskusi dan dialektika. Maka jangan merasa heran pula munculnya keberadaan kelompok bumi datar ataupun anti-vaksin.
Bukankah peradaban agung ini dimulai dari pengorbanan waktu, dan tenaga yang dituangkan oleh cendekiawan terdahulu dalam mengkritisi dan menguliti habis setiap pemikiran dan gagasan yang tertuang dalam tulisan? tidakkah kita malu kepada ulama terdahulu yang mencari ilmu dan berguru keseluruh pelosok dunia, yang berusaha sebisa mungkin bagaimana sanad ilmu nya mencapai Rasullullah saw. Malu kepada Imam Nawawi yang telah mencurahkan segala syahwatnya hanya kepada Ilmu. Malu kepada filsuf, dan ilmuwan yang menghasilkan karyanya dari elaborasi pengetahuan yang ia dapatkan dari buku-buku yang ia baca, tanpa fitur search google.
Dari sisi pengamatan penulis, Indonesia masih cenderung mengeluarkan buku dengan jenis ‘how to’, motivasi, fiksi, dibandingkan dengan buku-buku kritis, analisis, ataupun sains komprehensif. Yang akhirnya buku yang dalam ini hanya digandrungi para akademisi. Dan para akademisi indonesia pun cenderung sangat malas menuangkan pengetahuan mendalam dan rumitnya kedalam bahasa yang indah dan mudah dicerna oleh masyarakat awam dan umum di Indonesia.
Berbicara mengenai masalah literasi sains, seseorang tak akan jauh-jauh mengakarkan hal tersebut kedalam dunia pendidikan. Yang akhirnya permasalahan berkutat pada desain kurikulum, aksesibilitas pendidikan, kompetensi guru, kesejahteraan tenaga pendidik, mahalnya buku, maupun pedagogik dalam kelas. Seolah-olah rasio anggaran pendidikan terhadap PDB yang tinggi itu, sebesar 20%, belum cukup mampu menjawab permasalahan-permasalahan tersebut.
Solusi masalah-masalah ini tidak harus dari atas kebawah (top down) melulu, yakni tidak harus dimulai dari pemerintah, menteri, maupun birokrat lainnya. Pergerakan literasi harus juga dimulai secara dari bawah keatas (bottom up). Harus ada sekolompok masyarakat yang terjun dalam aktivitas literasi, menulis buku yang mendalam, ataupun terjun dalam dunia diskusi dan dialektika sehari-hari. Seorang guru pun harus sadar dan mengubah pedagogiknya dalam kelas, ia harus mampu membangkitkan motivasi dan partisipasi proaktif dari siswanya. Dan seorang yang telah sadar harus mampu membangun kebiasaan literasi kritis, tidak hanya rutin membaca buku, namun juga aktif melakukan studi literatur, pengecekan ulang kebenaran, fokus pada bidang keilmuannya, bertukar gagasan, membangun pola pikir terbuka, dan melakukan aktivitas dan pengambilan keputusan secara sistematis dan ilmiah.
Merujuk kembali kepada paragraf pertama, literasi sains bukan hanya tentang membaca, ataupun menulis. tapi juga mengenai tindakan dan aktivitas dalam membangun jati diri. Mae C. Jamison pernah mengatakan dalam literasi sains yang dikutip dalam website CNN,
I’ve been very involved in science literacy because it’s critically important in our world today. … As a public, we’re asked to vote on issues, we’re asked to accept explanations, we’re asked to figure out what to do with our own health care, and you can’t do that unless you have some level of science literacy. Science literacy isn’t about figuring out how to solve equations like E=MC². Rather, it’s about being able to read an article in the newspaper about the environment, about health care and figuring out how to vote on it. It’s about being able to prepare nutritious meals. It’s about being able to think your way through the day.

