Waspada Gejala Covid-19 yang Diam-diam Mematikan

Image for post
Image for post

Penularan Covid-19 di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Ini lantaran jumlah orang yang terpapar Covid-19 belum juga menunjukkan tanda-tanda menurun. Artinya virus Corona yang menjadi penyebabnya masih banyak dan beredar luas sehingga menimbulkan risiko tinggi untuk tertular. Ditambah lagi belakangan muncul beberapa gejala baru terinfeksi Covid-19 yang terbilang silent killer atau diam-diam mematikan.

Happy Hypoxia

Gejala happy hypoxia adalah kondisi dimana kadar oksigen di dalam jaringan tubuh menurun drastis namun tidak diikuti dengan gejala atau keluhan yang dirasakan penderitanya, seperti sesak napas. Akibatnya korban bisa mengalami kematian mendadak akibat akumulasi kegagalan organ akibat rendahnya kadar oksigen yang tidak disadari. Tak heran, happy hypoxia ini menjadi salah satu gejala yang dialami oleh mereka yang positif Covid-19 tapi tergolong OTG (Orang Tanpa Gejala) dan paling banyak merenggut nyawa penderita Covid-19.

Baca juga : Covid-19 di Indonesia Belum Aman! Ini Yang Harus Dilakukan

Dengan kondisi OTG, maka pasien tidak mengalami gejala sesak napas. seseorang dengan happy hypoxia masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari. Seperti makan, menonton, mandi, menelepon, hingga melakukan pekerjaan rumah. Namun saat diukur tekanan oksigen dalam darahnya sudah terjadi hipoksemia, atau kekurangan oksigen dalam darah. Menurut Ketua Umum Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto , dugaan sementara penyebab terjadinya silent hipoksemia atau happy hipoksia terjadi pada pasien Covid-19 adalah pengaruh dari virus itu sendiri. “Jadi sementara ini, disinyalir virus SARS-CoV-2 ini mengganggu reseptor yang ada di dalam mekanisme saraf tersebut,” kata Agus.

Lalu bagaiman cara mendeteksi happy hypoxia ? Sebenarnya ada tanda-tanda penderita happy hypoxia yang bisa dikenali secara fisik. Menurut dokter spesialis paru, Dr dr Erlina Burhan, MSc, SpP(K), gejalanya sama dengan sakit COVID-19 pada umumnya seperti batuk hingga lemas, tetapi dengan kondisi makin parah dari waktu ke waktu. “Tanda-tandanya, satu, bila gejala bertambah, bila batuk menetap, keluhan semakin lemas,” tutur Erlina. Lebih lanjut dia menjelaskan perhatikan juga warna bibir dan ujung jari, apabila ada kebiruan itu artinya saturasi oksigen sudah semakin turun dan mengarah ke happy hypoxia. Masih menurut Erlina happy hypoxia bisa membuat kesadaran semakin menurun dan bisa menyebabkan kematian.

Image for post
Image for post
Oximeter

Selain itu cara lain yang lebih memastikan yaitu dengan melakukan pemeriksaan kadar oksigen. Hal ini bisa dilakukan di rumah sakit atau fasilitas layanan kesehatan lainnya. Biasanya cara mengukur kadar oksigen dengan pemeriksaan oksimetri. Ini adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar oksigen di dalam darah tubuh (pemeriksaan oksimetri) lewat ujung jari tangan dengan cara menempelkannya. Secara otomatis akan keluar saturasi kadar oksigen di dalam darah kita.

Baca juga : Ini Dia Protokol Kesehatan Covid-19 yang Baru!

Jika hasil saturasinya menujukkan angka 95 ke atas, maka tidak ada hipoksemia. Di mana Saturasi oksigen orang normal adalah 95–100. Sedangkan penderita happy hypoxia saturasinya rendah, yaitu di angka 95 ke bawah bahkan sampai mencapai 60 atau 70.

Anosmia

Anosmia menjadi salah satu gejala banyak dialami oleh mereka yang terinfeksi Covid-19. Anosmia adalah gejala dimana penderita kehilangan indera penciuman. Berbeda dari akibat pilek atau flu, hillangnya indera penciuman akibat Covid19 lebih buruk dan berbabahaya daripada flu biasa. Sebab pasien Covid-19 tidak mengalami hidung tersumbat atau pilek. Bahkan kebanyakan dari mereka masih bisa bernapas lega, sebagaimana dilaporkan BBC. Sehingga terkadang penderita tidak atau telat menyadarinya, dan ini yang berbahaya.

Image for post
Image for post

Para ahli menduga anosmia terjadi karena virus corona menyerang sel saraf yang berkaitan langsung dengan sensasi penciuman dan rasa. Seorang profesor bernama Carl Philpott, dari University of East Anglia, melakukan pengujian. Dia melakukan tes penciuman dan rasa pada 30 relawan yang terdiri dari 10 pasien Covid-19, 10 penderita pilek parah, dan 10 orang sehat tanpa gejala pilek maupun flu. Hasilnya, pasien Covid-19 lebih banyak mengalami kehilangan penciuman. Para pasien ini kurang bisa mengenali bau dan sama sekali tidak bisa membedakan rasa pahit atau manis. “Tampaknya memang ada fitur pembeda yang membedakan virus corona dari virus penyakit pernapasan lainnya.” ujarnya.

Jangan lupa selalu melakukan berbagai hal untuk menjaga kesehatan agar tubuh selalu memiliki sistem imun yang kuat untuk mencegah virus Corona. Jika dirasa mengalami gejala gangguan kesehatan, jangan tunda untuk memeriksakan diri ke layanan kesehatan terdekat. Atau Anda juga bisa tetap berada di rumah dan bisa melakukan pemeriksaan kesehatan. Cukup hubungi Homecare24 yang menyediakan berbagai layanan pemeriksaan kesehatan. Termasuk pula layanan perawatan bagi Anda yang positif Covid-19 dan harus menjalani karantina di rumah, seperti layanan Corona Care dan Corona Chat Line.

Written by

Layanan Kesehatan Terpercaya dan Andal Dalam Kenyaman Rumah Anda

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store