<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:cc="http://cyber.law.harvard.edu/rss/creativeCommonsRssModule.html">
    <channel>
        <title><![CDATA[Stories by Milena on Medium]]></title>
        <description><![CDATA[Stories by Milena on Medium]]></description>
        <link>https://medium.com/@milenamalia?source=rss-12edacafd94f------2</link>
        <image>
            <url>https://cdn-images-1.medium.com/fit/c/150/150/1*Ea2majzrPn-CC9XVOu1DOA.jpeg</url>
            <title>Stories by Milena on Medium</title>
            <link>https://medium.com/@milenamalia?source=rss-12edacafd94f------2</link>
        </image>
        <generator>Medium</generator>
        <lastBuildDate>Wed, 20 May 2026 13:23:33 GMT</lastBuildDate>
        <atom:link href="https://medium.com/@milenamalia/feed" rel="self" type="application/rss+xml"/>
        <webMaster><![CDATA[yourfriends@medium.com]]></webMaster>
        <atom:link href="http://medium.superfeedr.com" rel="hub"/>
        <item>
            <title><![CDATA[Juwita]]></title>
            <link>https://medium.com/komunitas-blogger-m/juwita-ca860941938d?source=rss-12edacafd94f------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/ca860941938d</guid>
            <category><![CDATA[bahasa-indonesia]]></category>
            <category><![CDATA[memoar]]></category>
            <category><![CDATA[komunitas-blogger-medium]]></category>
            <category><![CDATA[perempuan]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Milena]]></dc:creator>
            <pubDate>Thu, 24 Apr 2025 02:42:21 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-05-10T20:03:57.635Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<h4>Teruntuk Kartini yang hidup di dalam jiwamu. Hari ini kami akan mengenang apa yang diperjuangkan di kesunyian.</h4><p>Ku sematkan bunga aster ungu di atas tanah yang kini memelukmu, lalu duduk sebentar di tanah yang lembab oleh hujan semalam sambil memandangi namamu yang cantik — terukir dingin di papan nama yang melekat di pagar putih peristirahatan terakhirmu. Hari minggu pagi yang dingin ini ku awali dengan menyapamu, sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan yang tak sempat ku temui di dunia ini.</p><p>Udara dingin di tanah makam ini dikalahkan dengan kehangatan saat aku mengingat semua kisah tentangmu. Yang bisa ku lakukan hanyalah mengenang, lalu menulis sekelumit kisah yang mungkin hanya sekilas menggambarkan hidupmu.</p><p>Lahir di tahun 1952, dengan nama Masjuwita. Lalu berganti nama menjadi Nita Juwita. Sayangnya, tak ada seorang pun yang benar-benar tau hari dan tanggal ketika dunia pertama kali menyambutmu. Percayalah aku sudah mencarinya, bertanya pada setiap orang dewasa yang mungkin juga diam-diam merindukanmu, tapi tak kutemukan satu pun tanggal yang pasti. Pasrah, aku pun menerima hari kelahiranmu menjadi legenda indah yang nyata untuk dikenang, namun sulit dijamah, sehingga kami disini bisanya hanya menebak-nebak.</p><p>Semasa kecilmu, kau dan ayahmu dulu begitu dekat. Kemanapun ayahmu pergi, kau selalu antusias menemaninya. Orang-orang bilang, kau adalah orang yang paling banyak belajar darinya. Sebagai anak perempuan kelima yang diberi kebebasan untuk menjelajah dunia kecilmu, cinta dan kekagumanmu padanya tentu sangat dalam.</p><p>Dan ayahmu memang pantas dikagumi. Di masa kecilnya yang tak punya kesempatan menjadi siswa — dari lubang kecil di dinding sekolah, ia diam-diam menyerap ilmu agar bisa membaca dan menghitung. Dari kegigihan itu, ia akhirnya tumbuh menjadi pedagang di tanah Dayak tahun 50-an. Begitu besar perannya dalam penyebaran agama Islam di kampung, dan terhadap hutan alam yang dulu ia jaga.</p><p>Ia juga berhasil membesarkan anak-anaknya yang akhirnya bisa sekolah jauh lebih tinggi dibanding dirinya, juga dengan kebebasan untuk berdaya dan berkarya. Percayalah, saat ini aku pun begitu dengan ayahku. Ia memberiku kesempatan untuk berusaha mengayunkan langkah untuk melihat dunia — walau pelan, tapi kebebasan ini membuatku merasa lebih hidup.</p><p>Dalam ingatan orang-orang terdekatmu, saat masa sekolah kau menjadi jagoan catur. Aku penasaran, bagaimana caramu belajar catur — yang saat itu, atau mungkin hingga kini, menjadi permainan yang sangat identik dengan laki-laki.</p><p>Ternyata, kau pelajari semuanya diam-diam dari pangkuan ayahmu, tempat kau duduk dengan mata tajam mengamati pion demi pion yang bergerak dari papan catur yang dimainkan oleh orang-orang dewasa.</p><p>Di usia belasan, mungkin sebelum suara-suara perempuan mendapat tempat di ruang-ruang publik, kau sudah berdiri percaya diri di depan mikrofon, memandu berbagai acara penting di kampung. Betapa kagumnya aku saat membayangkan bagaimana penampilanmu dalam peringatan hari-hari besar atau kenegaraan kala itu, berbicara dengan fasih dan anggun menghadirkan wibawa alami.</p><p>Maka, cukuplah cerita-cerita itu jadi saksi, betapa kau berusaha jadi lebih besar dari segaris zaman. Melampaui batas-batas perangai remaja perempuan di masanya. Pikiran, kemampuan, juang, tanggung jawab dan perempuan, tumpuk menumpuk jadi satu, muncul ke permukaan untuk jadi andalan orang-orang.</p><p>Lamaran itu datang di saat kau sedang menempuh kelas empat di PGA, setara baru lulus sekolah menengah pertama dan melanjutkan ke sekolah menengah atas pada masa itu. Kau sudah mampu membaca, menulis, dan mengaji — kemampuan yang bagi orang-orang waktu itu, sudah dianggap cukup untuk seorang perempuan.</p><p>Lingkungan sekitarmu mengajarkan, bahwa saat seorang melamar, maka usia itu sudah cukup untuk pendidikan dan menjadi waktu yang tepat untuk bersiap menjadi istri. Mimpi-mimpi yang sedang kau suburkan di kala itu, seketika menjadi tandas dan berputar haluan agar tidak dianggap menolak berkah.</p><p>Maka lembar-lembar buku pelajaran kemudian diganti lipatan-lipatan kebaya dan selendang. Maka sejak hari itu, hidupmu tak lagi digerakkan impian yang sedang tumbuh — melainkan kewajiban-kewajiban rumah tangga. Kini aku percaya, bahwa dulunya perempuan jarang percaya dan cukup berdaya untuk berkata, bahwa ia juga berhak menghidupi impiannya.</p><p>Saat sah menjadi seorang istri di usia 15 tahun, kebaya dan <em>tapih </em>menjadi bagian dari hidupmu yang tak terpisahkan setiap hari. Konon katanya, di lemarimu hanya diisi dengan kedua jenis pakaian itu.</p><p>Padahal aku yakin, apapun yang kau kenakan juga akan tetap memancarkan kecantikan, namun kewajiban mengenakan kebaya menjadi kewajiban yang harus kamu penuhi setiap harinya untuk menjadi taat kepada suami. Kewajiban itu mungkin tak lagi memberatkanmu, justru kau maknai menjadi simbol kebanggaan, sebagai seorang perempuan.</p><p>Di tengah memenuhi kewajiban-kewajiban domestik, diam-diam kau masih menyuburkan mimpimu melalui lomba tilawah. Suaramu menggema indah hingga berhasil menjadi pemenang — namun ternyata suara perempuan dianggap aurat, dan hadiahnya — sebuah piring — diperintahkan untuk dibuang. Untungnya, adik-adikmu menyelamatkan piring itu, penghargaan sederhana dari prestasimu, meski dunia belum siap menerimanya.</p><p>Jika suaramu dalam melantunkan Qur’an saja dianggap sebagai aurat, maka pasti kau tinggalkan jauh-jauh kegiatanmu sebagai pembawa acara. Kesepian mungkin menghampiri saat itu, karena identitasmu mulai berpaling dari inginmu, juga kebingungan menghadapi hambatan yang diluar kendalimu.</p><p>Anak pertama kau lahirkan saat usiamu 17 tahun. Lalu lahirlah anak-anakmu dengan selisih satu hingga dua tahun, hadir silih berganti dalam pelukanmu. Tahun-tahun itu berjalan dengan cepat, diisi oleh tawa dan tangis anak-anak, kegiatan mencuci di batang, dan malam-malam panjang yang kurang memberimu waktu untuk menoleh pada dirimu sendiri.</p><p>Jauh di dalam hatimu, masih tersisa ruang kecil yang merindukan impianmu. Mungkin diam-diam kau banyak menyimpan pertanyaan dan harapan yang tak terucap.</p><p>Lalu di tengah mengandung, mengurus anak-anak, dan menjalankan kewajiban rumah tangga, juga di tengah ladang impianmu yang sudah kering dan tandus — di mana ilalang tumbuh menggantikan harapan — sebuah kesempatan kembali muncul seperti benih yang tumbuh di tempat yang tak terduga — di tengah kerasnya kerikil-kerikil yang menutupi jejak harapanmu yang sudah pudar.</p><p>Kau menemukannya kembali, dari akar yang tumbuh dengan ketulusan cintamu. Bukan lagi dalam bentuk bangku sekolah yang dulu kau dambakan, tetapi dalam bentuk yang memberikanmu akses seluas-luasnya dan melahirkan akar impian baru.</p><p>Impian baru tumbuh ketika sedang hamil dan menemani suamimu dalam perjalanan ke kota-kota besar untuk menghadiri berbagai acara. Di sana, di antara perjalananmu, kau menemukan setitik peluang untuk mengembangkan diri sebagai bagian dari ‘Aisyiyah, organisasi perempuan yang terinspirasi dari Siti Aisyah, istri Nabi Muhammad, yang dikenal dengan kecerdasan dan keterampilannya.</p><p>Dengan menjadi bagian organisasi ini, kau percaya bahwa agama bukan tembok yang membatasi perempuan, melainkan jembatan yang membuka peluang untuk perempuan berdaya. Bahwa perempuan bukan hanya menjadi sasaran dari dakwah, tetapi juga subjek yang mampu menghidupi nilai-nilai perjuangan perempuan melalui agama, dan Al-Qur’an sejatinya tidak membedakan gender untuk bisa berkarya di ruang masyarakat.</p><p>Masih usia 20-an, kau mengambil langkah besar dengan penuh keberanian, dengan jiwa Kartini yang mengalir dalam darahmu, serta kebijaksanaan Siti Aisyah yang memberimu kekuatan lebih untuk berkarya.</p><p>Dengan kebaya yang kau kenakan, kau mendirikan sebuah taman kanak-kanak di pinggiran Kota Sampit untuk memberi akses pendidikan dasar bagi anak-anak yang tinggal di bantaran sungai Mentaya. Kau ingin mereka belajar membaca, menulis, dan berhitung — walaupun terletak di sebuah gang kecil. Yang juga menjadi sekolah pertama bagi anak laki-laki keduamu.</p><p>Putus sekolah hingga SMP, atau pandangan orang-orang yang meremehkanmu karena datang dari desa, tidak sama sekali menghalangi niat baikmu. Keberhasilan kemudian lahir dari tekad dan pengorbananmu. Ku tebak, tekad itu sebagian datang dari mengetahui perjuangan ayahmu yang dulu rela belajar melalui celah-celah dinding sekolah.</p><p>Seperti Kartini, kau ingin membangun gerbang pendidikan bagi anak-anak agar tak lagi terhalang oleh tembok batasan dunia yang sempit, kemudian dengan kemurnian niat seperti Siti Aisyah, kau berikan kunci gerbang itu untuk membebaskan anak-anak dari keterbatasan untuk belajar.</p><p>Hingga saat mengandung anak ke-enam, kau berada di tanah suci untuk ibadah haji. Tidak disangka saat itu juga menjadi saksi peristiwa Pengepungan Masjidil Haram oleh kelompok bersenjata. Nyalimu memang tak terbatas, saat situasi genting dan dalam kondisi hamil, kau memilih bertindak menyelamatkan suamimu yang terjebak di dalam bangunan. Tidak mungkin kau lakukan itu jika bukan dengan ketulusan hati dan keberanian, begitu pula cintamu yang murni terhadap orang-orang di sekitarmu. Bagaikan puisi, cinta yang sepenuh hati, menjadi petualangan bagi sang pemberani.</p><p>Di usiamu yang ke-27, ternyata surga merasa kehilanganmu terlalu lama, mereka cemburu dengan dunia yang kau tinggali. Maka mereka menjemputmu di hari Jum’at — diiringi dengan kelembutan, janji yang lebih mulia, tempat yang lebih tenang, lalu akhirnya dunia ini harus rela melepaskan perempuan yang ia sayangi.</p><p>Lemari tua menjadi lebih akrab dengan kebaya yang dulu tiap hari kau kenakan — seakan mereka menunggu tubuh yang tak pulang-pulang. Begitu pun dengan <em>tapih</em> yang dulunya setia menemani langkahmu, yang kini hanya menjadi lipatan-lipatan sunyi.</p><p>Kepergianmu mengisi banyak ruang. Udara memang masih berhembus, matahari juga tetap menyinari pagi, namun kenangan akanmu tertinggal di dada orang-orang yang pernah hidup bersamamu, terutama suamimu yang saat ini sudah menyusul kepergianmu, saudara yang menyimpan baik memori tentangmu, dan anak-anak yang kau rawat dengan penuh kasih sayang.</p><p>Aliran sungai yang menyaksikan tangis pertama kehadiranmu, kini bertemu dan bertanya tentangmu padaku. Kalau kau ingat Sungai Cempaga, di desa kelahiranmu dan juga berteman akrab dengan masa kecilmu, percayalah ia sampai sekarang masih mengalir, menemani misi kemanusiaan yang ku jalani.</p><p>Kutitipkan berita pada angin yang mendengar cerita ini — entah apakah ia akan sempat menyapamu di keabadian — bahwa kini aku menetap dan bekerja di sebuah desa yang masih berada dalam satu kecamatan dengan tanah kelahiranmu. Desa ini adalah tempat yang pernah kau tapaki bersama ayahmu, saat beliau menjabat sebagai pembakal dan mendatangi pusat pemerintahan desa.</p><p>Kita berpijak di tanah yang sama, namun ruang dan masa dengan terpaksa memisahkan kita. Kini aku temukan alasan kenapa semesta selalu memanggilku ke tempat ini.</p><p>Ingin rasanya aku mengenalmu lebih dekat. Begitu banyak hal yang ingin kuceritakan padamu — bahwa kini, dunia mulai belajar lebih ramah pada perempuan; bahwa dunia sudah lebih canggih, namun semakin sibuk dan semakin rumit; dunia sedikit tidak baik, tapi do’a mu yang dulu sempat kau panjatkan, senantiasa menjagaku.</p><p>Ingin juga ku ceritakan bahwa anakmu, telah menanamkan kekaguman padamu dalam diriku, hingga tumbuh keinginan untuk menjadi perempuan setangguh dirimu. Saudara-saudaramu pun kini gemilang di jalan masing-masing, membawa ilmu dan keberhasilan yang mungkin dulu kau impikan untuk mereka.</p><p>Memang kala itu tidak ada karpet merah yang menyambut perjuanganmu, tidak ada pula perayaan saat impianmu kembali menyatu, tidak ada ruang untukmu membagi cerita, tidak ada validasi seperti yang berhamburan di jaman sekarang.</p><p>Namun semua tentangmu, menjadi pelita hati, menjadi penyuluh hidup, dan menjadi tekad yang mengalir deras dalam nadiku — seperti sungai yang masih mengalir di kehidupan kita di masa yang berbeda.</p><p>Sering ku tanya Tuhan, memangnya cinta hanya bisa ada kalau kita bertemu orangnya? Ku kira cinta untuk seseorang yang tidak pernah ku temui adalah mustahil, nyatanya tidak. Kau mengenalkan cinta sebagai bahagia yang sederhana, sesederhana saat merasa tenang kala mengenangmu.</p><p>Kini, aku memahami bahwa cinta sejati tak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal — dalam dunia yang kau cintai. Ia ada dalam sekolah yang dulu kau dirikan. Dalam anak-anak yang kau besarkan. Dalam cerita-cerita yang kami dengar, lalu aku tulis dengan sederhana, untuk aku jaga sebaik-baiknya. Tentang perempuan berhati luas yang pernah mencintai dunia walau dengan beribu tantangan.</p><p>Tak hanya menitip salam, sesekali ingin aku minta pada Tuhan agar kita dihidupkan dalam ruang waktu yang sama, agar aku bisa mendengar suaramu memanggil namaku — atau sekedar membuat kau mengetahui, bahwa aku adalah cucumu yang menyayangimu bahkan sebelum sempat bertemu.</p><figure><img alt="Juwita menggendong anak ketiganya sambil ditemani oleh anak sulung perempuan dan anak kedua laki-laki" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/804/1*uwWTYMZfavC8WBkX7HiRTg.jpeg" /><figcaption>sumber : dokumen pribadi</figcaption></figure><p><strong><em>Cerita ini sebagai penghormatan untuk nenek kami tersayang,</em></strong></p><p><em>Juwita (1952–1980)</em></p><p><strong><em>Memoar yang ditulis oleh cucumu,</em></strong></p><p><em>Milena</em></p><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=ca860941938d" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/komunitas-blogger-m/juwita-ca860941938d">Juwita</a> was originally published in <a href="https://medium.com/komunitas-blogger-m">Komunitas Blogger M</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
        <item>
            <title><![CDATA[Melihat lebih dekat dampak krisis iklim]]></title>
            <link>https://medium.com/komunitas-blogger-m/memangnya-harus-peduli-dengan-krisis-iklim-2fd803efb0ff?source=rss-12edacafd94f------2</link>
            <guid isPermaLink="false">https://medium.com/p/2fd803efb0ff</guid>
            <category><![CDATA[lingkungan]]></category>
            <category><![CDATA[komunitas-blogger-medium]]></category>
            <category><![CDATA[krisis-iklim]]></category>
            <category><![CDATA[bahasa-indonesia]]></category>
            <dc:creator><![CDATA[Milena]]></dc:creator>
            <pubDate>Sat, 30 Dec 2023 08:04:31 GMT</pubDate>
            <atom:updated>2025-05-17T16:50:05.599Z</atom:updated>
            <content:encoded><![CDATA[<figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/768/1*24PU_3iqiJdGXyo6Vz_wOA.jpeg" /></figure><p>Coba kita flashback masa-masa SD. Bukan soal jajanan telor gulung atau mie lidi. Tapi sedikit balik ke pelajaran SD, pasti kita pernah dengar pernyataan ini :</p><ul><li>Penebangan hutan secara liar menyebabkan hilangnya habitat satwa, kekeringan, berkurangnya pasokan udara bersih, bencana banjir dan longsor.</li><li>Pembukaan lahan menyebabkan berkurangnya area resapan air sehingga terjadi banjir. Karna mengubah fungsi dari hutan itu sendiri.</li></ul><p>Kalimat-kalimat ini biasanya berulang kali kita temukan di buku sekolah, mulai jaman saya masih sekolah hingga 3 tahun yang lalu saat saya masih aktif part-time mengajar private siswa sekolah dasar.</p><p>Tulisan ini sedikit menjadi pengingat tentang ‘hukum alam’ yang sejatinya sudah sering kita dengar saat masih sekolah.</p><p>Brutal truth, hukum alam ini tidak bisa dilihat dan dirasakan oleh semua orang. Ada titik dimana perhatian tidak diberikan ke semua yang juga berhak mendapatkannya.</p><blockquote>Saya gak paham tuh, kalau petani bisa gagal panen karna krisis iklim, soalnya kalau saya mau makan nasi, ya langsung saja ambil di rice cooker.</blockquote><p>Akhir-akhir ini musim panas terasa lebih lama dari biasanya. Kadang, saat cuaca panas terik lalu tiba-tiba hujan deras sampai terjadi banjir. Atau malahan, di bulan Desember ini yang harusnya musim hujan, kita malah kepanasan.</p><p>Juni hingga Agustus 2023 merupakan tiga bulan terpanas sepanjang sejarah dan bulan Juli 2023 menjadi bulan yang paling panas. Kabar buruknya, menurut Indeks Risiko INFORM tahun 2023, Indonesia menduduki <strong>peringkat ketiga teratas </strong>negara yang paling berisiko terhadap bahaya iklim (peringkat ke-48 dari 191), termasuk banjir, kekeringan, dan gelombang panas (European Commission, 2023). <strong>Frekuensi dan intensitas bahaya iklim diperkirakan akan meningkat seiring dengan memburuknya perubahan iklim.</strong></p><p>Banyak orang berpikir perubahan iklim berarti kaitannya suhu yang semakin meningkat. Tapi kenaikan suhu hanyalah awal dari mulainya perubahan iklim. <em>Coba kita lihat root cause-nya</em>, karena Bumi adalah sebuah sistem, di mana semuanya terhubung, perubahan di satu area dapat memengaruhi perubahan di semua area lainnya. Kemudian perubahan ini akan mempengaruhi semua aspek <em>basic needs </em>atau kebutuhan dasar dalam kehidupan sehari-hari.</p><p>Dulu kita menyebut iklim untuk membantu mengingat pola cuaca jangka panjang, agar kita biar bisa tahu kalau di Indonesia saat bulan Juni musim panas, atau saat bulan Desember musim hujan. Saya menulis ini di bulan Desember, dan inilah cuacanya.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/379/1*mfEKh8MNsgBEY-R-ayYU6A.png" /></figure><p>Sedari kecil tinggal di Kalimantan, saya percaya pernyataan-pernyataan dari pelajaran SD itu benar adanya. Terutama saat bencana karhutla tahun 2015, 2019, dan tahun 2023 ini, yang bahkan menjadikan Kota Sampit — berkali-kali menoreh prestasi <strong>peringkat 1 udara terburuk di Indonesia</strong>, dengan angka ISPU kategori Berbahaya.</p><p>Sudah menjadi rahasia umum jika kebakaran hutan dan lahan gambut 99% disebabkan oleh faktor kesengajaan manusia yang membakarnya, entah untuk membuka lahan, mencari ikan di semak, atau mendapat “mandat” untuk melakukannya. Perpaduan antara cuaca panas dengan suhu yang semakin tinggi, lahan gambut yang mengering dan sensitif terbakar, serta kesengajaan untuk membakarnya, lengkap sudah mengundang kebakaran lahan. Hingga September 2023, tercatat 3.208 kasus ISPA di Kabupaten Kotawaringin Timur. Ini hanya salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah, belum lagi terhitung kabupaten lain se-Kalimantan.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*j7DqpOaRYlVN8LMK9d58jw.png" /><figcaption>Kebakaran lahan gambut di Kota Sampit. Sumber: @sampitinfo</figcaption></figure><p>Bencana lainnya, tahun 2021 terjadi banjir besar di Kalimantan Selatan. Oke, <strong>banjir besar di Kalimantan. Yang dikenal banyak pohonnya. </strong>11 dari 13 kabupaten di Kalimantan Selatan saat itu terendam banjir dan dilanda longsor. Di sini, di sebuah pulau yang dikenal <strong>“The Lung’s of The World”</strong>, saya menjadi relawan dalam menyalurkan bantuan untuk ribuan korban banjir, bahkan ada beberapa korban rumahnya tenggelam dengan ketinggian banjir hingga mencapai 3 meter, <strong>yang tidak pernah sama sekali terjadi sebelumnya. </strong>Berulang kali saya bertanya kepada beberapa penerima manfaat saat menyalurkan bantuan, “pernah banjir begini Bu?”. Semuanya menggeleng, ikut kebingungan dengan banjir besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan, sebagian besar wilayah tidak bisa dilewati dengan kendaraan bermotor dan hanya bisa menggunakan perahu. Terkadang perahu ini menjadi tempat tidur para korban banjir yang tidak tinggal di pengungsian, karena sudah tidak bisa lagi mengandalkan kasur empuk yang telah kuyup terendam. Belum lagi ladang dan kebun sumber penghasilan warga yang habis dilalap banjir.</p><p><strong>Baca lebih lanjut tentang Banjir Kalimantan Selatan:</strong> <a href="https://www.mongabay.co.id/2021/02/01/belajar-dari-banjir-kalimantan-selatan-peringatan-agar-bijak-kelola-alam/">https://www.mongabay.co.id/2021/02/01/belajar-dari-banjir-kalimantan-selatan-peringatan-agar-bijak-kelola-alam/</a></p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/692/1*THHQMTQLspYavv98WSgjCg.jpeg" /><figcaption>Foto kedua anak perempuan saat banjir Kalimantan Selatan, 2021</figcaption></figure><p>Hutan gambut yang luas di Indonesia menjadikannya salah satu negara dengan luasan gambut tropis terbesar di dunia yang mencapai 13,43 juta hektare, tersebar di tiga pulau besar yaitu Sumatera, Kalimantan dan Papua (sumber: pantaugambut). Paru-paru dunia memang punya banyak kekayaan. Saking kayanya, bukan hanya keanekaragaman hayati, tapi lahannya yang luas dan kaya juga berpotensi untuk ditanami sawit, apalagi dengan seiring meningkatnya kebutuhan CPO di dunia. Semakin hari, perkebunan kelapa sawit berkembang lebih cepat daripada hampir semua komoditas pertanian lainnya. Mengutip dari Ditjenbun (2018), perkembangannya sangat pesat hingga pada tahun 2017 luas area perkebunan sawit mencapai sekitar 14 juta hektar. Padahal pada awal tahun 1980-an, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia masih sekitar 249 ribu hektar.</p><p>Perluasan area perkebunan kelapa sawit yang masif sayangnya akan mengorbankan fungsi kawasan lahan gambut dan menganggu habitat flora fauna si penghuni asli. Hutan gambut semakin mengalami degradasi kualitas karena sejatinya ia memiliki keanekaragaman hayati yang punya kemampuan menyimpan karbon jauh lebih baik dibandingkan perkebunan monokultural seperti sawit.</p><p>Dua karakter utama lahan gambut :</p><ul><li>Terbentuk dari tanaman yang mati dan membusuk (bahan organik) yang sangat tinggi. Sehingga dapat menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar dan dalam waktu yang lama.</li><li>Mempunyai sifat seperti spons, menjadi penyerap air dan penyalur air. Sehingga berperan penting terhadap tata kelola hidrologis ekosistem.</li></ul><p>Kedua karakter tersebut menjadikannya sebagai solusi alam yang efektif dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Namun sayangnya, tingginya simpanan karbon di hutan gambut <strong>dapat terlepas menjadi emisi</strong> apabila hutan tersebut dialihfungsikan, dikonversi, didrainase, hingga akhirnya menjadi semakin kering dan mudah terbakar.</p><p>Sawit memang cukup seksi, karna dilihat dari sisi pendapatan ekspor, sawit menempati posisi kedua setelah batu bara. Namun, jika terus-menerus tanpa diimbangi dengan upaya serius perlindungan hutan – seperti mengabaikan peran otentik hutan gambut bagi ekosistem – pada akhirnya tinggal memilih untuk terus memperluas dengan segala konsekuensi ekologis, atau mempertahankan solusi alami sebagai tameng perubahan iklim.</p><figure><img alt="" src="https://cdn-images-1.medium.com/max/1024/1*ZOEjl4BtM2v-4ubYH-78PA.png" /></figure><p>Agar upaya menghadapi perubahan iklim ini bisa melangkah maju, penting untuk meningkatkan pendidikan, kesadaran, dan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan dalam mitigasi perubahan iklim, dengan juga memperkuat ketahanan global dan kapasitas adaptasi terhadap dampak pemanasan global. Rencana iklim nasional dan internasional hanya dapat berhasil jika dikembangkan dengan serius, serta melibatkan otoritas lokal dan regional, yang terdampak langsung dan bersentuhan langsung dengan ‘akibatnya’ di lapangan.</p><p>Jika setiap ton CO2 yang dilepaskan berkontribusi terhadap pemanasan global, <strong>maka semua upaya dalam pengurangan emisi juga memiliki kontribusi dalam memperlambat pemanasan global</strong>. Dampak perubahan iklim sangat serius dan mempengaruhi banyak aspek kehidupan. Dan jika kerusakan lingkungan ini terus meningkat, banyak wilayah di Indonesia akan menghadapi keterbatasan dalam kemampuan beradaptasi, seperti banjir, karhutla, dan bahkan menghadapi kekurangan air bersih.</p><p>Para penyangkal <strong>krisis iklim</strong> berupaya untuk meremehkan pentingnya pemanasan global dan peran manusia dalam pemicunya. Pada akhirnya, semua berawal dari dasar pemikiran, <strong>egosistem </strong>atau <strong>ekosistem</strong>. Mengabaikan masyarakat yang langsung berhadapan dengan dampak krisis iklim yang sama saja dengan <strong>“lack of emphaty”, </strong>padahal<strong> </strong>tinggal di bumi yang sudah memberikan segalanya untuk kita hidup.</p><p>Krisis iklim tidak hanya bisa disampaikan dengan sekedar narasi di buku sekolah dasar, tidak juga mengandalkan janji-janji dari narasi yang menenangkan, tapi sudah butuh kesadaran kolektif dan bukti aksi nyata. Yang senyata-nyatanya.</p><p><strong><em>Bacaan lainnya :</em></strong></p><ul><li><a href="https://climate.ec.europa.eu/climate-change/causes-climate-change_en">Causes of climate change</a></li><li><a href="https://climatecommunication.yale.edu/publications/climate-change-in-the-indonesian-mind/">Climate Change in the Indonesian Mind</a></li><li><a href="https://www.rri.co.id/editorial/2047/tahun-2023-era-kekacauan-iklim-global">Tahun 2023 Era Kekacauan Iklim Global</a></li></ul><img src="https://medium.com/_/stat?event=post.clientViewed&referrerSource=full_rss&postId=2fd803efb0ff" width="1" height="1" alt=""><hr><p><a href="https://medium.com/komunitas-blogger-m/memangnya-harus-peduli-dengan-krisis-iklim-2fd803efb0ff">Melihat lebih dekat dampak krisis iklim</a> was originally published in <a href="https://medium.com/komunitas-blogger-m">Komunitas Blogger M</a> on Medium, where people are continuing the conversation by highlighting and responding to this story.</p>]]></content:encoded>
        </item>
    </channel>
</rss>