Merry Tobing (kanan) sedang memperlihatkan kain tenun pewarna alam kreasi penenun dari Suku Dayak Iban di Desa, Kab. Sintang, Provinsi Kalbar.

Berbagi Cerita Kain Vol. 2

Memahami Pengembangan Kain Tradisi & Perawatannya

Oleh Nurdiyansah Dalidjo

Pada akhirnya, Berbagi Cerita Kain pun berlanjut. Setelah acara pertama yang kami beri tajuk sebagai Berbagi Cerita Kain Vol. 1, Kain Kita pun mulai menghadapi berbagai pertanyaan: “Kapan Berbagi Cerita Kain Vol. 2-nya?” Dan masih dengan konsep acara yang sama, Berbagi Cerita Kain Vol. 2 pun kami suguhkan. Kali ini, kami megambil tema seputar pemahaman (peluang dan tantangan) terhadap pengembangan kain tradisi untuk sesi sharing and discussion. Sementara pada sesi workshop, kami saling berbagi pembelajaran dan pengalaman seputar perawatan kain dengan cara yang praktis, mudah, dan murah.

Pada Berbagi Cerita Kain Vol. 2 ini, kami berkesempatan untuk menghadirkan Merry Tobing, enterprise manager dari Non-Timber Forest Products (NTFP-EP Indonesia). Ia berbagi pengetahuan dan pengalamannya dalam melakukan kerja-kerja pendampingan dan pengorganisasian terkait dengan revitalisasi, pelestarian, dan pengembangan kain tenun (sebagai produk hutan non-kayu) bersama kelompok tenun dari Masyarakat Adat, khususnya perempuan adat, di komunitas adat Dayak Desa di Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat.

Peluang dan Tantangan Pengembangan Kain Tradisi

“Bagi Masyarakat Adat di Dayak Desa, tenun ikat bukan sekadar kain, melainkan media untuk menyampaikan pesan kepada generasi berikutnya melalui motif-motif,” ungkap perempuan Batak yang telah akrab disapa Mba Merry itu ketika melakukan pemaparan.

Setiap helai kain tenun dari sub-Suku Dayak Iban dapat memiliki corak yang merekam enam motif, bahkan lebih. Itu artinya kita dapat menemukan sedikitnya enam nasihat atau petuah atau petunjuk untuk menjalankan hidup dari selembar kain.

Kerja-kerja Mba Merry dan tim di Kalimantan itu tidaklah mudah. Sebelum melakukan intervensi, tradisi tenun sebetulnya tengah memasuki fase kritis. Orang-orang tua memang masih mengenal motif dan cakap dalam menenun, tetapi bukan berarti tradisi tenun tetap kuat. Tenun mulai mengalami kepunahan. Ada banyak faktor yang menyebabkan itu. Dulu, pakaian sehari-hari Masyarakat Adat masih menggunakan tenun, namun sejak dikenal dan masuknya kain tekstil (pabrik) dan pakaian modern, warga mulai beralih. Wajar saja sebab hal itu memberikan kemudahan dan kepraktisan dibandingkan proses tenun itu sendiri yang membutuhkan proses yang bisa dikatakan rumit dan keahlian-keahlian khusus di setiap prosesnya yang panjang.

Tetapi, tentu bukan hanya itu. Pada awalnya, seluruh material kain tenun dan proses pembuatannya berasal dari alam, mulai dari perkakas tenun itu sendiri, benang kapas, pewarna alam, dan bahan-bahan lain yang dibutuhkan. Sehingga, apa yang terjadi terhadap alam (wilayah adat), termasuk hutan, turut mempengaruhi situasi pertenunan di kampung.

Mba Merry mengutarakan bahwa yang paling terdampak itu adalah proses pewarnaan alam. Ada banyak material yang dipakai untuk pewarnaan, berasal dari hutan. Misalnya, dalam proses perminyakan dalam pewarnaan benang, dibutuhkan buah kelampai dan bunga-bunga yang hanya ditemukan dan tumbuh di hutan. Mereka tak bisa ditanam di ladang atau kebun atau pekarangan rumah. “Jadi, bayangkan jika hutan mereka rusak atau tak ada lagi, bagaimana dengan keberlanjutan tahapan penting dalam pembuatan tenun itu,” ungkap Mba Merry kepada para teman yang hadir. Hal itu membuat kita termenung pada situasi perkebunan sawit dan pertambangan berskala raksasa yang selama beberapa dekade ini banyak menggusur wilayah adat dan membabat habis hutan-hutan di Kalimantan.

Sementara itu, Masyarakat Adat yang telah mengelola hutan secara turun temurun, tahu betul cara bagaimana memanfaatkan hasil hutan sambil menjaga kelestariannya. Dan itu tergambar dari setiap tahapan dalam proses penenunan. Salah satu contohnya, adalah bagaimana cara mereka mengambil akar mengkudu untuk pewarnaan. Dalam memanen akar mengkudu, mereka hanya mengambil satu sisi akar saja untuk membuat pohon mengkudu tetap hidup. Begitu juga dalam mengambil kulit pohon tertentu di mana mereka cuma akan mengambil satu sisi batang agar pohon-pohon tersebut bisa meregenerasi diri dengan cepat. Tentu saja, itu hanya sebagian kecil contoh.

Kerumitan corak-corak geometris serta proses pewarnaan alam pada tenun-tenun ikat yang dihasilkan oleh Masyarakat Adat Dayak Iban di Desa dan komunitas lainnya di Sintang, mempunyai kekhasan. Setiap motif merepresentasi filosofi mereka dan keterhubungan dengan Sang Pencipta, leluhur, alam, dan manusia. Kekhasan lain juga ada pada warna-warna kain yang bersumber dari tanaman-tanaman yang hanya tumbuh di hutan atau wilayah adat mereka. Tenun merekam pengetahuan dan keterampilan kolektif perempuan adat, wilayah kelola perempuan adat, serta otoritas diri (terhadap tubuh) dan peran perempuan adat dalam komunitas. Hanya perempuan yang menenun dan hampir seluruh prosesnya pula dilakukan oleh perempuan secara kolektif.

Maka, ancaman pada keberlangsungan itu bukan hanya terletak pada situasi-situasi menantang yang datang dari luar komunitas adat, melainkan juga dari dalam komunitas adat itu sendiri terhadap upaya mengembangkan dan menjawab apa kebutuhan mereka untuk tetap menenun. Kontekstualisasi terhadap tenun penting agar masyarakat sendiri dapat merespon perubahan-perubahan yang ada, terutama dengan adanya nilai ekonomi dari tenun sebagai produk kerajinan dan seni yang kini telah punya daya saing di perkotaan. Tenun juga diminati oleh masyarakat perkotaan, baik dalam bentuk helaian maupun aplikasinya terhadap tren berbusana.

Dari situlah NTFP-EP mulai menguatkan dan mengorganisir para penenun ke dalam kelompok (koperasi) tenun yang beranggotakan para perempuan adat sebagai penenun. Pengembangan dilakukan terhadap penciptaan motif-motif kontemporer, warna-warni alam baru, serta desain pakaian, tas, dompet, dan produk inovasi lainnya berbahan tenun di bawah brand Borneo Chic.

Usai pemaparan yang diutarakan oleh Mba Merry, kawan-kawan aktif berdiskusi tentang banyak hal. Pertanyaan maupun tema yang muncul amat beragam, mulai dari kondisi penenun di daerah lain, kendala dalam melakukan kerja-kerja pendampingan, pandangan para penenun terhadap tenun tradisi dan kontemporer, hak cipta komunal, hingga perkara produk tenun ATBM di Jawa yang menggunakan motif-motif tenun dari daerah lain dan kian membanjiri pasar tenun di Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia. Kita tak sepantasnya hanya sekadar menilai tenun atau kain tradisi secara sempit dari aspek estetika saja, melainkan pula etika, terutama dengan mempertimbangkan nasib para perempuan sebagai pengrajin atau seniman di balik helai-helai keindahan.

Merawat Kain

Jika pada Berbagi Cerita Kain Vol. 1, Kain Kita memiliki sesi workshop #PakaiKain sebagai bagian dari kampanye kami bersama dengan seri video pada YouTube dengan nama yang sama, maka kali ini Kain Kita memberikan pembelajaran terkait dengan tips untuk merawat kain, terutama kain-kain tradisi yang berusia relatif tua dan menggunakan pewarna alam. Tentu saja, cara maupun bahan yang digunakan, sangatlah sederhana. Untuk sesi ini, kami dibantu oleh kawan dari Perkumpulan Wastra Indonesia yang kebetulan dapat hadir, yakni Vilidius Siburian (Vili) dan Rade Eva Panjaitan (Rade).

Vili dan Rade berbagi pengalamannya terkait penyimpanan, pencucian, penggunaan/pemakaian, hingga perawatan kain dalam keseharian dengan cara yang amat mudah. Kain-kain tenun perlu disimpan dalam suhu ruangan yang stabil dan terhindar dari sinar matahari langsung. Secara rutin, kain juga perlu dikeluarkan untuk sekadar diangin-anginkan atau digunakan sebagai pelengkap busana atau fungsi dekoratif. Vili memberi tahu bahwa ia pun kerap memajang tenun di rumah, bukan untuk dilihat-lihat saja, melainkan membuatnya bisa tetap “bernapas” dari dalam lemari yang gelap. Membersihkan atau mencuci kain pun tidak harus sering-sering, tapi seperlunya saja. Tak perlu deterjen! Terutama bagi kain dengan pewarna alam, hanya air bersih pun cukup atau dapat juga divakum (cuci kering) dengan hati-hati jika terdapat benang yang terurai.

Bahan-bahan untuk merawat kain pun dapat ditemukan di dapur rumah. Vili kerap menaruh cabai kering (pengganti kapur barus atau pewangi kimia) untuk menghindari serangga atau binatang lain yang hinggap pada lemari atau kain dalam penyimpanan. Rempah-rempah lain juga punya fungsi yang sama, yakni merica atau lada. Selain berfungsi menjaga kelembaban, aroma butiran lada yang kencang, dapat mengusir binatang-binatang kecil yang kerap mengumpat di sela-selai kain tenun atau sudut lemari kayu. Ada juga cengkeh atau kayu manis yang selain punya fungsi untuk pengawetan, juga memberikan aroma. Biji-biji kopi juga punya fungsi yang sama. Sementara untuk wadah atau pelapis, kain blacu putih (tanpa warna) atau kertas asam adalah yang paling baik untuk digunakan. Namun, selain sulit didapat, kertas asam relatif mahal. Dan sebagai pengganti, dapat pula menggunakan kertas roti. Penyimpanan kain, khususnya untuk songket, sebaiknya memang digulung. Gunakan kayu atau pipa plaron untuk poros menggulung, lapisi dengan kertas roti atau kain blacu, lalu simpan dalam lemari bersama rempah-rempah.

Pada Berbagi Cerita Kain Vol. 2 ini, kami juga mendapatkan banyak kawan baru yang kemudian membuka ruang untuk bisa saling berbagi kisah dan pembelajaran mengenai kain. Kawan-kawan yang hadir datang dari beragam latar belakang yang berbeda. Dan dari sinilah kami meyakini bahwa kain juga menjadi penghubung yang membangun relasi-relasi. Melalui kain, kami berupaya untuk menjalin koneksi pada kecintaan dan kepedulian yang sama.

#BerbagiCeritaKain adalah kegiatan yang diselenggarakan secara independen dan kolektif oleh Kain Kita sekaligus menjadi ruang di mana para pecinta, kolektor, peneliti, penulis, desainer, pengrajin, penenun, wirausahawan, serta pegiat kain lainnya dapat bertemu, berkenalan, serta berbagi cerita, pengalaman, pembelajaran, dan kecintaan seputar kain.

Pada setiap pertemuan, kami membuka peluang terhadap siapa pun untuk berbagi dan siapa pun dapat mengusulkan atau merekomendasikan pembicara dan fasilitator yang hendak dihadirkan. Acara Berbagi Cerita Kain tidak berbayar (gratis) dan terselenggara juga atas swadaya teman-teman dan pendukung Kain Kita.

Kain Kita

Telling stories through the indigenous and traditional…

Medium is an open platform where 170 million readers come to find insightful and dynamic thinking. Here, expert and undiscovered voices alike dive into the heart of any topic and bring new ideas to the surface. Learn more

Follow the writers, publications, and topics that matter to you, and you’ll see them on your homepage and in your inbox. Explore

If you have a story to tell, knowledge to share, or a perspective to offer — welcome home. It’s easy and free to post your thinking on any topic. Write on Medium

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store