RTFG == Antara Budaya & Kebutuhan

Halo semuanya, perkenalkan nama gw Habibie. Kali ini gw mau sharing tentang budaya RTFG. Namun sebelum gw lanjutin cerita, cobalah nanti bersikap layaknya open-minded person. Karena disini gw akan “membenahi” pola pikir belajar yang dimiliki oleh kebanyakan orang Indonesia. Dan pastinya reader gw disini orang Indonesia semua, so prepare yourself before continue reading this article :D

Oke kalau kamu udah baca paragraf pertama diatas, berarti siap-siap untuk dibrainwash yaa? Oke gw akan mulai dari quotes yang suka banget diucapin sama orangtua

Namanya orang itu harus dikasih les, kursus & training yang banyak. Biar nanti ilmunya makin luas dan siap menghadapi persaingan yang makin ketat.

Okay well gw harus bilang bahwa tidak salah mempelajari ilmu dari tempat-tempat tadi. Namun menurut gw, yang menjadi masalah adalah ketergantungan kita terhadap pengajar atau guru yang terlalu berlebihan.

“Ketergantungan” yang gw maksud itu adalah mindset kita yang berpikir bahwa semua ilmu wajib guru yang mengajarkan. Jikalau gurunya tidak mampu mengajarkan suatu hal lebih lanjut, maka si murid tinggal terima “iya” saja tanpa adanya follow-up secara mandiri.

Di dalam tulisan ini, secara eksplisit gw sudah mulai memperkenalkan era belajar mandiri. Tetapi bukan berarti bahwa kita sama sekali tidak perlu guru. Nanti akan dibahas lebih lanjut.

Sekali lagi, yang paling penting ketika sedang mempelajari suatu ilmu adalah DEDIKASI serta NIAT yang tinggi. Mengenai kedua hal tersebut mungkin bisa dibaca lebih lanjut di artikel opini gw yang lain (https://medium.com/@habibiefaried/how-does-it-like-to-be-a-pro-programmer-cerita-tentang-dedikasi-dan-pengalaman-285be8178b4e) *promosi xD

The Pure Laziness

Masih berbicara mengenai ketergantungan, sering sekali gw melihat pertanyaan di forum kayak gini

Gimana sih gan cara Install Kali Linux?
Ajarin saya pemrograman python dong dari awal

Disini saya terkadang mempertanyakan NIAT dan DEDIKASI mereka. Maksud gw, please lah itu basic banget bahkan bisa kalian temukan di google. Nih saya jawab pertanyaan yang nomor 1

Diambil dari google.co.id

Itu ya gan ada 449.000 artikel yang siap ente baca dan praktekin langsung tanpa perlu bertanya siapapun.

Inilah yang saya takutkan kemudian, malas mencari ilmu dan terlalu bergantung sama orang lain. Yuk, sekarang mari kita sama-sama belajar bagaimana cara belajar ;)

Self-paced Learning

Ini adalah istilah yang sering muncul pada abad ini. Berikut adalah definisinya.

Self-paced learning can be defined as an offering in which learner determines the pace and timing of content delivery. It is sometimes self-regulated learning. Self-awareness at a cognitive and emotional level would be appear to be key enabling process in development of self-regulatory strategies

Disini terdapat “Self-Awareness” yang artinya adalah kesadaran diri untuk “enabling process in development” yang artinya dalam proses pengembangan (diri). Perbedaan dengan self-learning adalah pada self-paced learning masih ada keterkaitannya dengan guru atau mentor. Namun biasanya hanya dalam bentuk video karena yang ditekankan adalah interaksi yang sangat fleksibel antara guru dan murid.

Dan gw harus tekankan bahwa hampir semua sertifikasi internasional itu sudah menggunakan metode ini. Kalaupun ada training atau kursus yang disediakan pastilah sangat sangat mahal.

OSCP dan OSCE adalah salah satu sertifikasi prestisius untuk para hacker

Offensive Security adalah salah satu sertifikasi dan course yang mengandalkan teknik ini. Para peserta wajib mempelajari sendiri modul dan akses lab yang sudah disediakan pihak Offsec. Bahkan tidak dianjurkan untuk seseorang untuk mengajarkan materi kepada peserta OSCP/OSCE. Para peserta diminta untuk mempelajari itu semua secara mandiri hingga ujian nanti.

Semboyan “Try Harder” diperuntukkan untuk peserta
Have you tried harder?

Karena ilmu itu akan didapat kalau kamu memang bekerja sangat keras untuk itu. Ada pesan tambahan juga dari salah satu mantan peserta yang sudah membuktikan kerja kerasnya mengikuti sertifikasi offsec.

This was the hardest thing I have ever done in my life both academically and professionally. This course is not for the faint of heart and requires a lot of self discipline, perseverance and a very understanding wife, — anon testimony

Yep, ilmu yang hebat bukan milik orang yang mudah menyerah. Tentunya juga harus dapet support dari istri.

Istri? Orang masih jomblo kok ngomongin istri lol

Peace ya gan haha, sama kok ane juga jomblo (jadi curhat)

Have you RTFG’ed enough?

Sekarang mulai deh pasti ada yang nanya begini

Kalo udah googling ga ketemu terus gimana gan?

Terkadang kalian sudah benar-benar mentok dan kehabisan akal ketika ingin menguasai suatu ilmu. Yasudah ga ada opsi lain kecuali panggil teman/sahabat kamu yang sudah menguasai ilmu itu duluan. Guru yang baik tidak akan langsung memberikan jawabannya. Namun hanya memberikan kisi-kisi atau keyword google untuk bahan pencarian anda selanjutnya.

Jadi, jangan mudah kecewa juga kalau kamu masih harus “bekerja” mencari jawaban. Jangan putus asa juga yang berujung kembali menjadi males, ayo try harder!

Nothing ever comes to one, that is worth having, except as a result of hard work.
Kerja keras tidak akan mengkhianati hasil
Udah2 gan quotesnya cukup. Ngerti kok ngerti

Quotes paling bawah itu pasti kalian haha. Senang mendengar kalian mengerti maksud dan tujuan penulisan artikel ini sepenuh hati.

Kata terakhir?

Gw ketika nulis ini adalah murni untuk koreksi kita masing-masing tanpa menyindir perseorangan atau bahkan komunitas. Well, gw juga manusia biasa masih perlu belajar dan yuk bersama-sama spread the word untuk membiasakan RTFG.

Eh, masih blom tau RTFG itu apa? Sok cari sendiri yah di google :P

Btw, thanks udah ngeluangin waktu untuk baca. Semoga bermanfaat!

Salam,

Habibie Faried

habibiefaried@gmail.com

CISSP & OSC* wanna be

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Habibie Faried’s story.