Surat untuk para product designer

Cerita seorang kakek kepada cucu-cucunya

(Photo by Dwinawan Hariwijaya)

Dear cucu-cucuku,

Setiap hari, kakek selalu belajar. Sampai setua ini, kakek tidak pernah berhenti belajar. Bahkan akhir-akhir ini, kalianlah sumber belajar kakek. Mulai dari keunyuan sampai ke-Valor-an kalian telah menginspirasi kakek hingga seperti sekarang ini.

Kapan saja kakek merasa tercerahkan oleh kalian?

1. Ketika kalian bertanya-tanya, “Bagaimana membuat design bisa dimengerti oleh user?”

Dari situ kakek paham bahwa empati kalian tumbuh dan kalian sudah merasakan design yang tidak dimengerti oleh user itu yang seperti apa. Dengan semangat kakek menjawab, “Coba dites oleh user!”. Sesimpel itu, tapi user test-lah yang akhirnya membuat kalian kecanduan. Tak peduli apa peran kalian di tim product design.

Sang product concept designer, giat ngobrol dan mengobservasi para user sampai mengetahui cara user melakukan step-by-step “apa yang dicari” dalam penggunaan suatu produk. Sang user interface designer, giat melakukan prototyping dari kertas, Balsamiq, sampai Sketch, untuk memvalidasi usability perjalanan user dari satu layar ke layar yang lain. Sang user interface developer, mengecek animasi di layar supaya tidak mengurangi usability bahkan meningkatkan kualitasnya. Sang product copywriter, memastikan kata-kata yang dicari jelas, targeted, dan mengecek apakah user memahami maknanya.

Itulah sebabnya di sini tidak ada UX Researcher dan UX Designer, karena tidak ada satu pun dari kalian yang hanya berurusan dengan research saja atau design saja. Semuanya melakukan research — design — research — design; atau (seperti yang kita lakukan di sini karena kata “research” begitu menakutkan buat para product manager cupu) test — design — test — design begitu selanjutnya. Kenapa mulai dari test dulu? Karena testing our assumptions with users adalah hal pertama yang kita lakukan sebelum memulai mendesain.

2. Ketika kalian galau, “Saya ini designer seperti apa ya? Ke mana arah saya akan tumbuh?”

Lalu kakek tanyai kalian dengan pertanyaan-pertanyaan ini:

  1. Kau semangat dan suka gemes lihat tampilan di layar kah?
  2. Kau semangat lihat aktivitas product manager kah?

Untuk penjawab pertama, kakek dukung kalian untuk menjadi ahli visual user interface. Kau perlu mengerti information architecture di layar, karena kelompok dan susunan informasi ini yang menentukan bagian mana yang perlu visually prominent. Kau perlu mengerti psikologi kognitif seperti Gestalt principle, karena itu yang akan membantumu mendesain tampilan supaya manusiawi, alias tidak menipu mata manusia. Kau mungkin akan tercebur ke proyek yang cukup kompleks dari layar ke layar sampai harus membuatmu ketemu engineer setiap hari.

Untuk penjawab kedua, kakek dukung kalian untuk menjadi ahli product development. Kau perlu mengerti kebutuhan user dan kebutuhan bisnis sampai menemukan kompromi yang sesuai: “apa yang dicari dan apa yang disediakan”. Kau perlu mengerti experience mapping, karena dari situlah kau bisa menghubungkan perjalanan user dengan apa yang dibutuhkan di setiap saat bersentuhan dengan produk. Kau mungkin akan ikut menentukan minimum viable product sampai kau bersahabat dengan product manager.

Masa depan kalian cerah, cucuku.

Si ahli visual user interface akan makin berjaya di era internet yang makin cepat koneksinya sehingga makin mendorong munculnya produk-produk software yang kompleks. Apalagi sekarang zaman layar sentuh, dimana user punya cara berinteraksi yang beda dibanding zaman WIMP (Apple Macintosh pertama keluar waktu kalian belum lahir!). Kalau dulu kita banyak memikirkan elemen seperti drop-down, radio button, dan hover state, maka sekarang kita lebih sering memikirkan user mau tap di mana saja.

Si ahli product development akan makin berjaya sejalan dengan makin banyaknya jenis teknologi yang masuk dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kebutuhan sederhana informasi tentang kereta sudah sampai mana, sampai kebutuhan rumit seorang peternak ikan untuk mengurangi kerugian dengan mendeteksi waktu-waktu lapar si ikan. Sekarang mulai berkembang Internet of Things, yang memungkinkan kita dikelilingi tembok-tembok cerdas yang membantu kehidupan kita sehari-hari.

3. Ketika kalian bertanya dengan polosnya, “Di perusahaan ini 3 tahun lagi saya bakal jadi apa, ya?”

Perkembanganmu tak terbatas, cucuku. Ini startup. Segalanya bergerak begitu cepat. Bahkan 2 minggu yang lalu kakek tak membayangkan hari ini akan jadi seperti ini. Ketika bingung, semangat, pusing, dan bertenaga bercampur jadi satu, jadinya panas dingin bukan?

Karena yang konstan di sini hanya satu: perubahan. Kalau kalian tidak bisa memaafkan perubahan-perubahan mendadak, berarti kalian tidak cocok bekerja di startup. Manusia kan berbeda-beda. Ada yang gampang bosan, butuh banyak perubahan, maka bolehlah mencoba startup. Ada yang ingin serba terkontrol, tidak ingin jadi pihak yang terkena imbas perubahan, maka bolehlah mencoba corporate. Apapun itu, kenalilah dirimu. Seiring dengan kedewasaan maka kalian akan semakin mengenal diri masing-masing.

Tugas kakek hanya memastikan kalian tetap tumbuh. Kalau kalian tidak tumbuh lagi, mungkin perlu bertanya dan mengintip hati terdalam (memang ada hati di luar?). Tidak ada yang salah dalam mengenali diri sendiri. Kalau ternyata lingkungan yang sekarang tidak membuat tumbuh, maka beranilah melangkah ke tempat lain.

Karena memang kalian harus salah. Kalau tidak mengalami kesalahan maka tidak belajar. Cepat-cepatlah merespon kesalahan dengan keinginan untuk memperbaiki. Tidak perlu takut disalahkan, karena itu berarti kalian malas belajar dari kesalahan. Atau — maaf — mungkin orangtua atau guru-guru kalian dulu kurang update dengan cara mendidik, sehingga membuat kalian terbiasa disalahkan. Yuk ah, kalian sudah dewasa. Tinggalkan masa lalu dan jadilah orang dewasa yang tidak takut salah.

Dengan berani berubah dan berani salah, tidak disangka-sangka 2 tahun lagi kalian akan jadi… Head of Design? Kenapa tak mungkin?

4. Ketika kalian merefleksikan apa yang kalian alami di proyek sampai jadi presentasi atau tulisan blog yang ciamik!

Itulah tanda kalian memang seorang designer! Karena kalian reflektif. Dulu kakek belajar di sekolah karena ada bab “Reflection” di akhir setiap laporan proyek kelompok. Kami jadi belajar mengkritisi (bukan menyalahkan) diri sendiri, misalnya “Kenapa hasil akhirnya terasa aneh?” Lalu kami bersama-sama menuliskan “What could have been done better”. Biasanya bagian yang ini bikin semangat ingin melanjutkan proyeknya, tapi apa daya tugas lain sudah menanti. Namanya juga masih sekolah.

Setelah bekerja penuh waktu, baru kakek merasakan nikmatnya punya waktu melanjutkan proyek dengan bahan refleksi sebelumnya. Bos juga senang, karena waktu ditanyai kenapa begini kenapa begitu malah kakek jawab dengan hasil refleksi, bukan defensif dikira disalahkan atau berpolitik menutupi kesalahan.

Cara memberi feedback yang baik juga diajarkan di sekolah kakek. Mulai dari feedback pekerjaan desain sampai feedback cara kerja. Saling curhat tentang cara kerja masing-masing itu perlu, lho. Seorang designer kan wajib kerja bareng orang lain (yang bekerja sendiri kan artist, atuh).

Misalkan design adalah angka 1, dan kolaborasi dengan design adalah operasi perkalian. Design menjadi penentu eksistensi suatu produk. Jika tidak ada design, produknya nol. Jika design berdiri sendiri, produknya satu. Jika design berkolaborasi dengan yang lain, produknya bisa jadi angka sebesar-besarnya.


Terima kasih sudah begitu menginspirasi, cucu-cucuku. Kalian jatuh cinta pada user, punya growth mindset, belajar dari eksplorasi, dan reflektif. Semoga kalian juga menginspirasi para designer lain.

Sekian dulu cerita dari kakek. Kapan-kapan kakek sambung lagi, ya.