Studi Kasus : Merancang Visual Identity untuk Diri Sendiri (pt.1)

[ part1 | part2 | part3 ]

Halo, perkenalkan saya Ais, freelance illustrator di Jakarta. Saya pembelajar otodidak; self-taught artist dengan ruang belajar dari internet. Tulisan ini bertujuan sebagai catatan untuk diri saya sendiri dan sharing proses saya dalam merancang personal visual identity untuk digital portfolio saya: Harice.

Saya berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Segala kritik, saran, komentar maupun diskusi sangat diterima! Temukan saya di instagram dan dribbble.

Saya ucapakan; selamat membaca!

Tahun 2019, untuk menunjang portofolio fresh graduate, saya membuat personal project berupa visual identity baru sekaligus memperbarui logo sebelumnya. Proses merancang tahap awal memakan waktu hingga kurang lebih tiga bulan dengan evaluasi sampai bulan keenam. Hasil untuk versi pertama saya publish di Instagram tahap berikutnya di Behance.

Visual Identity Board — Aisha Ahya Hariri Harice — alohariri
Harice’s Visual Identity — 2019

Sebelum memulai proses merancang, hal pertama yang saya lakukan adalah mencari referensi pemahaman untuk membangun basic concept mengenai branding, visual identity dan logo dan memperjelas tujuan akhir dari proses merancang yang akan dilakukan. Rekomendasi bacaan:

Kesimpulan yang saya garis bawahi mengenai Branding adalah reputasi yang dihasilkan dari personality yang menjadi ciri khas pembeda dari yang lain, brand identity adalah ciri khas berupa visual maupun audio yang membantu (atau menyebabkan) munculnya personality. Proyek pribadi saya ini fokus pada visual identity yang di dalamnya ada logo / symbol trademark.

Tahapan yang akan saya lakukan terdiri dari 3 langkah utama; Mengumpulkan ide referensi, menyusun konsep dan mengeksekusi. Ketiga langkah itu dapat dipecah menajdi 6 langkah lebih rinci:

Image for post
My Step on 2019- 2020, inspired by this design logo process

“It’s through mistakes that you actually can grow. You have to get bad in order to get good.” –Paula Scher

. one . — The ‘Why’ Reasons

Bermula dari keinginan mempunyai social media avatar yang bagus di akun instagram sekaligus digital portfolio saya. FOMO!* Fear of Missing Out. Semua kawan desainer saya punya personal identity sendiri entah itu logo, simbol, OC (original character), maskot atau sekedar warna yang jadi ciri khas yang dijadikan sebagai avatar.

Sebelum ada visual identity yang terbentuk, avatar saya hanya menggunakan screenshot dari artwork yang saya suka. Saya juga tidak terlalu percaya diri untuk menggunakan foto pribadi sebagai avatar di portfolio account saya. (Meskipun masih openly discussion lebih baik mana antara menggunakan visual berupa simbol atau foto pribadi yang profesional dalam portfolio).

*(saya menulis ini setahun yang lalu, sekarang saya merasa sudah lebih dewasa menerima reaksi FOMO ini. Every artist has different experience, and all experiences are individual. Tidak akan bisa dan tidak ada gunanya membandingkan progress sendiri dengan orang lain. Be wise, learn a lot and stay hungry, stay creative!)

Mempunyai avatar keren itu bagus, tapi hal itu bukan menjadi tujuan akhir dari proses merancang visual identity.

Mendapatkan sebuah tujuan bisa didasari karena faktor keinginan, tapi tidak semua keinginan sebenarnya bisa menjadi solusi; apalagi dalam kasus ini, the real problem masih harus diklarifikasi. Jadi saya membuat sebuah problem map menggunakan metode analisis why-why yang merupakan bagian dari brainstorming fishbone diagram. Secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:

Masalah: tidak punya avatar keren

  • Kenapa tidak punya avatar keren? Karena tidak punya simbol.
  • Kenapa tidak punya simbol? Karena tidak punya identity.
  • Kenapa tidak punya identity? Karena tidak punya brand.
  • Kenapa tidak brand? Karena memang belum ada :)

Jadi, akar masalah saya adalah karena tidak memiliki brand identity. Apa solusinya? Merancang brand identity terutama dalam fokus visual identity.

Dari proses bertanya why-why ini saya mendapatkan gambaran bahwa saya membutuhkan visual identity untuk mendapatkan tujuan sederhana: mempunyai avatar keren. Tujuan akhirnya akan sedikit kompleks karena banyak manfaat dari terbentuknya visual identity untuk sebuah brand.

Berdasarkan pemahaman brand identity di awal tulisan, untuk mendapatkan visual identity yang menyampaikan pesan dan kesan kepada audience, saya harus mempunyai visual identity yang menunjukan personality siapa diri saya.

Kemudian pertanyaan baru muncul: “Personality saya seperti apa?”

Image for post
Saya mencoba berbagai macam cara; mulai dari 16personalities hingga Hogwart’s Sorting Hat.

Cara paling efektif adalah berbicara dengan diri sendiri, mengenai hal-hal yang kita suka, value dalam memandang hidup, dan lain sebagainya. Saya mencoba mengingat berbagai macam komentar mengenai diri saya sendiri — yang bukan bercanda tentunya — yang saya dapatkan sepanjang hidup saya lalu mencatatnya di sebuah kertas.

Tidak bermaksud merendah tapi saya mendapat banyak kata baik berupa pujian tapi saya tidak mengira bahwa kata-kata yang saya terima itu-itu saja. Saya tidak akan mengumbar ke disini karena akan terkesan narsistik; tapi saya mendapatkan sebuah gambaran sedikit warna apa yang akan saya pakai, yaitu warna pastel.

Image for post
Beberapa karya saya yang saya sukai secara personal di Instagram. Benang merah: Smooth Gradient

Melihat karya-karya lama saya, menjadikan saya teringet bahwa saya mempunyai logo sebelumnya; logo yang saya buat sekitar tahun 2015.

Pada tahun itu, saya memang sedang semangatnya berkarya WPAP, melihat creator dan artist WPAP lainnya mempunya identity yang terpampang dalam karya mereka membuatku menciptakan identity sendiri berupa logo kupu-kupu dengan negative space huruf H yang diambil dari nama terakhir. Bentuk yang geometris dengan sudut lancip sesuai style WPAP.

Image for post
I called it; Hutterfly (2015)

Waktu berjalan terus, kini saya bahkan tidak pernah membuat WPAP dalam 3 tahun terakhir. Meski saya pernah menjadikan logo ini visual identity tapi sekarang saya tidak merasa ada personality yang pas di dalamnya.

Penilaian saya pada bentuknya yang simetris dan bersudut lancip akan saya hindari untuk logo yang akan saya buat. Tapi bukan berarti saya ingin sebuah logo yang abstract.

Image for post
Beberapa karya amatir WPAP saya dulu (dan penampakan Hutterfly)

Gambaran ide awal di kepala saya adalah saya akan membentuk ulang logo kupu-kupu Hutterfly ini menjadi bentuk yang lebih modern dan dinamis. Saya ingin menetapkan konsep Hutterfly ini untuk digunakan kembali di proses rancangan visual identity ini.

Konsepnya berasal dari nama belakang saya yaitu Hariri.

Image for post
Hariri in arabic
Image for post
Kata kunci yang saya ambil adalah Sutra (Silk)

Dari kata sutra itu saya mendapat brainstorming ulat sutra yang kemudian menjadi kupu-kupu (sebenarnya yang betul itu ngengat sutra bukan kupu-kupu, mereka berbeda tapi secara visual tidak jauh perbedaannya).

Tapi saya tidak menjadikan konsep Hutterfly sebagai acuan yang wajib dipegang teguh; saya tetap membuat pilihan-pilihan terbuka terhadap perubahan nantinya.

Hasil dari tahap . one .

  • Personality: warna pastel
  • Kata kunci: sutra
  • Beberapa hal yang tidak disukai dari logo yang lama: kaku, tidak dinamis, bersudut lancip, simetris, tidak balanced (terlihat heavy solid di bagian atas, tidak menyampaikan personality

. two . — Complete Brief

Pada tahap .one. setelah selesai mencari alasan dan tujuan untuk menjadi pondasi visual identity lalu kita mencapai tahap .two. yaitu membuat design brief. Step ini sangat penting karena menjadi acuan dalam proses perancangan selanjutnya. Diibaratkan bangunan, tahap .one. adalah peletakan batu pondasi, maka design brief adalah tiang-tiang penyangga yang menjadi informasi luas bangunan maupun ruangan yang akan dibangun.

The term brief comes from military jargon, where briefing is defined as “the act of giving in advance specific instructions or information.” It has a specific structure, is short and concise, contains all the necessary information but not more, and consists of a given task and result to achieve but gives enough liberty to adapt to the situation (a mission brief). — source

Design brief minimal terdiri dari project description / project background, project scope, objectives, target audiences, the overall style and time estimation; jika proyek komersil maka wajib juga menetapkan budgeting.

Biasanya desain brief dibuat oleh desainer untuk diisi oleh klien untuk mendapatkan informasi proyek desain yang akan digarap. Tapi karena proyek personal ini tidak memiliki klien — sebenarnya ada yaitu saya sendiri. Jadi saya sebagai desainer dan sebagai klien saya menerapkan asas demokrasi yaitu dari saya, oleh saya, dan untuk saya.

Image for post
source: Graphic Design Memes by digitalsynopsis.com

Mengenai target audience untuk logo dilihat dari pengaplikasian logo difokuskan sebagai visual identity seperti penggunaan pada social media, watermark dalam karya atau corporate identity berupa graphic element dalam business card, pin, kop surat dan website. Tujuan yang ingin dicapai adalah sebuah visual identity yang merepresentasikan personality. Jadi, dalam design brief ini kolom target audience dikosongkan dan menyerahkan sepenuhnya pada selera desainer — saya sendiri.

Saya mengalami kesulitan dalam menjelaskan berbagai kata sifat mengenai desain yang akan saya buat. Untunglah dengan bantuan Canva blog*, saya dapat melengkapi tone and manner untuk design brief logo project ini yang terdiri dari brand emotions, values, dan mind mapping keywords untuk merancang visual style yang akan dibuat.

*(setahun yang lalu pinterest Canva berisi informasi seperti ini, tapi bulan April 2020 ini saya mengunjungi pinterest Canva isinya sudah berubah, lebih ke arah promotion fitur Canva seperti hasil desain presentasi, desain surat dan lain-lain. So, if you find the link source please notify me. Tanggal saya menyimpan gambar ini di komputer : 28 Januari 2019 9:31 PM)

Image for post
Enchanting dan Magical sepertinya kata yang bagus

Brand Values adalah visi dari brand yang ingin ditunjukan dalam visual identity; apakah ingin terlihat elegan, unik, berkualitas atau bijaksana.

Image for post
Take out: creativity, positivity and simplicity.

Lalu ada warm-up untuk mind mapping visual style dari Canva:

Image for post
Exercise for myself, thank Canva

Saya juga mengumpulkan avatar dari berbagai freelance designer, team designer dan studio design yang saya sukai sebagai referensi.

Image for post
Screenshot dari dribbble (2019)

Sempat saya berpikir untuk membuat maskot sebagai pelengkap visual identity tapi saya merasa itu tidak diperlukan karena selama ini klien berinteraksi secara langsung dengan saya, bukan dengan mesin chat bot atau via aplikasi. Tapi ada kemungkinan besar saya akan membuat sebuah original character berupa self-portrait yang menjadi pelengkap untuk pemberi kesan personal dan humanist sebagai visual identity.

Untuk menemukan visual style dari logo saya menemukan satu postingan Pinterest yang sangat membantu:

Image for post
source

Hasil dari tahap .two. adalah terbentuknya design brief yaitu :

  • Who you are: Digital Illustrator from Jakarta, freelancer and work worldwide, the main product it can be editorial illustration, book illustration, website illustration or comics.
  • Personality: enchanting and whimsical, kind of magical
  • Core Values: creativity, poisitivity, simplicity
  • Mission Statement: crafting splendid message to be sighted visually
  • List of Do’s. feminine, playful, quiet, simple, subtle and geometric
  • List of Don’ts: old, vintage, dark, sharp corner, abstract, strict, symmetry
  • Elements: negative space (the hidden message)
  • Colors: pastel, warm, soft
  • Typography: modern serif and simple sans serif

Kesimpulan pada part pertama adalah saya menemukan core value dari personality yang menjadi fondasi utama visual identity nanti. Pada part selanjutnya saya akan menuliskan proses saya dalam melakukan sketsa untuk logo, dari draft sampai final hingga evaluasi beberapa alternatif desain logo yang ada: kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Apa kalian punya cara tersendiri untuk menuliskan design brief, terutama untuk personal project? Silahkan komen pengalaman kalian ya!

Kalian tau tidak? Icon tepuk tangan yang kalian lihat bisa di tap hingga 50x lho \:D/ Segala kritik, saran, komentar maupun diskusi santai sangat diterima! Temukan saya di instagram dan dribbble.

Terima kasih sudah membaca sampai sini, sampai bertemu di part selanjutnya!

[ part1 | part2 | part3 ]

freelance illustrator under screen name ; Harice Ch — www.alohariri.com

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store