Siap untuk design jogging di hari Kamis? Sebuah tujuan, batasan waktu dan fokus pada pengguna.

Thomas Budiman
May 13 · 3 min read
Sumber gambar

Jika kamu belum membaca artikel sebelumnya, kamu bisa membacanya:

Design Jogging bukanlah sebuah parodi atau lelucon atas Design Sprint, melainkan untuk mengajak pembaca melihat dengan sudut pandang berbeda dari metode Design Sprint.

Kenapa jogging?

Jika sprint adalah lari cepat dengan jarak pendek dan batasan waktu — Konteksnya dalam design sprint adalah sebuah cara dalam berinovasi, menentukan strategi, mencari solusi bagi bisnis, membuat prototype dan mengujinya dalam waktu singkat. Satu minggu saja.

Sedangkan jogging mencerminkan sebuah latihan, rutinitas, keseharian (dengan penekanan/ekspetasi lebih rendah dari Design Sprint) untuk mempraktekkan nilai-nilai dari Design Sprint dalam proses dan cara berpikir kamu sehari-hari.


Hari Kamis (pada Design Sprint)

Setelah menentukan ide-ide dan menuangkannya ke dalam sebuah storyboard pada hari Rabu, hari Kamis memiliki fokus utama mengubah storyboard tersebut menjadi sebuah prototype yang akan diuji esok harinya.

Sepanjang hari tim Design Sprint akan memastikan prototype yang dibuat cukup realistis sehingga mampu memunculkan reaksi dan opini yang jujur dari partisipan uji coba.

Sumber gambar

Versi joggingnya begini…

Sebuah tujuan jelas, waktu yang terbatas, dan fokus pada bagaimana customer akan melihat prototipe kita, akan membantu kita di dalam proses kita mempersiapkan suatu prototipe.

Bayangkan pada design sprint, mereka berusaha untuk menyelesaikan suatu prototipe untuk diuji hanya dalam satu hari saja.

Mungkinkah? Tentu saja!
(Berdasarkan pengalaman saya bekerja di sebuah Agency yang menerapkan metode ini selama 5 hari)

Selama kita telah menetapkan batasan waktu, kita tentunya akan melakukan beberapa penyesuaian akan cara-cara untuk membangunnya.

Pada design sprint, mereka juga menyarankan kita untuk tidak menggunakan tools yang selalu kita gunakan. Tetapi pergunakan tools apapun itu yang memampukan kita untuk bergerak lebih cepat dan fleksibel dalam membangunnya.


Saya jadi teringat ketika Tony Stark membuat Mark I di dalam gua, yang merupakan versi prototipe dari Mark II dan kemudian Mark III pada film Iron Man yang pertama (2018).

Tony memiliki tujuan yang jelas, yaitu dia ingin menyelamatkan diri dari gua tersebut.

Tony memiliki keterbatasan waktu.

Tony memiliki fokus pada bagaimana prototipenya ini bisa menghadapi para penjahat yang menjaga gua tersebut dan akhirnya kabur. Baju baja untuk tahan dari serangan senjata api, penyembur api untuk mengacaukan fokus dan sekaligus menghancurkan gudang persenjataan terbuka. Terakhir, sepatu jet untuk terbang melarikan diri.

Tony juga hanya menggunakan tools dan bahan seadanya saja dalam membangun Mark I.

Berhasilkah? Tentu saja! Tujuannya untuk kabur tercapai.
Apakah Mark I sudah sempurna? Tentu saja tidak.

Contoh Iron Man di atas saya tambahkan supaya lebih santai sedikit dalam memahami pola pikir dalam membangun prototipe pada Design Sprint.


Bagaimana joggingnya di hari Kamis?

Apakah memberikan perspektif baru yang bisa meningkatkan proses kamu dalam mendesain? Silahkan teman-teman bisa berbagi cerita atau bertanya di kolom komentar.

Mau tahu lanjutan hari-hari berikutnya di Design Jogging?
Nantikan terus di Insight.

Insight

UI, UX, Bisnis Design

Thomas Budiman

Written by

Designer · thebuddyman.com

Insight

Insight

UI, UX, Bisnis Design

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade